Tuesday, April 25, 2006
Musibah atau Sebuah Sentimen
Tadi malem gw cukup capek soalnya harus ngerjain slide buat presentasi LKTM di GKFM pagi jam 9. Tapi gw cukup capek buat ngerjain langsung, so gw tidur dulu truz ngerjain lagi jam 10. setelah gw bangun kok ada suara ketawa2 yang cukup keras. E... ternyata ada dua orang tambahan yang jadi tamu di kontrakan gw. Mereka ternyata sedang asik nonton republik BBM. Setelah lama kemudian gw nglanjutin pekerjaan gw. setelah dipikir-pikir emang besok gw mo presentasi apaan sih?

Slide bagian gw pun dah selese, trus otomatis jam 2 gw tidur. Abis tidur gw bangun jam 5.22 n ambil wudlu buat sholat subuh dan dilanjutin lagi dengan bertamasya ke negeri kapuk. Jam ternyata telah manunjukkan jam 7, gw pun segera bangun n mandi buat presentasi jam 9. Setelah dandan ggw brangkat deh ke kampus ama R@P buat nungguin si Wahyu. berkali2 gw telpon kok g dijawab2 sih? truz jam 9:30 di baru dateng dg perasaan bersalah dia ngomong kalo slide bagiannya belum jadi. Aduh.... klompok gw emang parah smua deh. Akhirnya dengan hati iba gw masuk lagi k lab buat nyelesaiin slide tadi. Entah berkah atau musibah, tiba-tiba ada kabar bahwa semua LKTM dari Fasilkom tidak ada yang lolos. Hal ini sangat berbeda dengan seleksi tahun lalu karen a tahun lalu semua paper yang masuk juga harus presentasi.

Denger-denger sih emang orang rektorat sentimen ama yang namanya FASILKOM. Pak ganda pun pernah ngomong juga kalo selama ini rektorat rada tidak adil dengn FASILKOM. sebagai contoh MAPRES tahun lalupun sebenarnya yang menang dadalah dari FASILKOM tapi karena beberapa sebab g jadi juara deh. pernyataan ini berasal dari sumber yang cukup valid kok, karena sebagian peserta MAPRESpun berkata demikian. Hal lain yang jadi sentimen adalah penempatan FASILKOM di urutan terbawah dalam urutan lomba Kebersihan Kampus se UI. Sampai-sampai par punggawa dekanatpun ngomong bahwa semua itu g penting, yang penting prestasi.

Selama ini apakah kita g sadar bahwa prestasi mahasiswa FASILKOM g diragukan lagi. Banyak prestasi international dan nasional yang kita raih g pernah dipublikasikan ama HUMAS Rektorat. Apakah sebabnya kita kok mandapat sentimen seperti itu?

Banyak-banyaklah merenungkan diri karena dengan merenung kita akan tau apa dan bagaimana sebenarnya hidup itu

Postingan diatas hanya pendapat pribadi dan tidak bermaksud untuk menyerang atau mencari kambing hitam sebuah permasalahan

Wallahuaklam bis shawab
 
posted by Hadaiq at 11:12 AM | Permalink | 1 comments
Saturday, April 22, 2006
Ikan Kecil dan Air
Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang
di tepi sungai. Kata Ayah kepada anaknya, "Lihatlah anakku, air
begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan
mati."

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan
itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin
tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan
ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil
bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, "Hai, tahukah kamu
dimana air? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air
kehidupan akan mati."

Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil
semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu
dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu
ikan kecil ini menanyakan hal serupa, "Dimanakah air?"
Jawab ikan sepuh, "Tak usah gelisah anakku, air itu telah
mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya.
Memang benar, tanpa air kita akan mati."

Apa arti cerita tersebut bagi kita?
Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan kecil,
mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia
sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya
sampai- sampai dia tidak menyadarinya.

Kehidupan dan kebahagiaan ada di sekeliling kita dan sedang kita
jalani, sepanjang kita mau membuka diri dan pikiran kita, karena
saat untuk berbahagia adalah saat ini, saat untuk berbahagia dapat
kita tentukan.
Nikmati hidup, syukuri kehadirannya. JANGAN BUANG WAKTU UNTUK
MENGEJAR YANG 'BUKAN MILIK KITA.'
 
posted by Hadaiq at 4:16 PM | Permalink | 0 comments
Thursday, April 20, 2006
Jaga Mulut Loe
Entah mengapa rasanya mulut ini mudah sekali berkomentar.
Apa yang dilihat, didengar, dirasa, rasa-rasanya amat menggelitik,
sehingga dengan disadari atau tidak, terlontar kata kata yang begitu
mungil dan ringan diucapkan tapi begitu besar dan berat dampak dunia
akheratnya. Bahkan celetukan spontan selain bisa memperlihatkan
kualitas kepribadian kita juga bisa menentukan nasib baik kita atau
sebaliknya.

Kalau tak berhati-hati, komentar kita bisa melukai hati orang lain,
karena yang bersangkutan bisa merasa dihina atau dipermalukan atau
merasa diejek, (walau kita tak bermaksud buruk) namun begitulah,
celoteh iseng kadang bagai pisau yang mengiris, menyakiti dan
membuat luka, tentu seperti yang kita tahu sakit hati akan
menimbulkan benih kebencian, benci menggiring kepada dengki dan
permusuhan, memiliki musuh berarti mempersempit kehidupan kita serta
memersiapkan ranjau yang akan mencelakakan diri.

Komentar juga bisa menandakan kufur nikmat, yang bisa menghapus
nikmat yang ada dan menutup pintu pemberian Alloh lainnya yaitu
ketika lontaran kata spontan hanya berupa keluh kesah, kekecewaan,
cemoohan terhadap keadaan, atau menggerutu penuh kekesalan, padahal
semua nikmat dari Alloh tak ada yang mengecewakan, jikalau disyukuri
niscaya akan sangat terasa kenikmatannya dan tentu akan mengundang
pelbagai karunia lainya sesuai dengan janjiNya.

Komentar juga akan memperlihatkan kebodohan kita, yaitu ketika kita
gemar mengomentari segala hal agar kita nampak serba tahu dan
dianggap pintar, padahal jelas sekali orang yang pandai akan sangat
berhati-hati dalam ucapannya, lebih banyak diamnya dan tak sungkan
untuk mengakui ketidak tahuannya, serta tak malu dianggap bodoh,
sebetulnya hanya orang yang bodoh sungguhan yang sok pintar dan sok
tahu.

Dan berkomentar spontan yang mengerikan adalah ketika, ucapannya
penuh dengan riya, takabur, ujub, penyakit hati yang membinasakan,
komentar yang sering menceritakan amalnya sendiri dengan tujuan
dipuji, pamer jasa dan kebaikan, berarti efektif akan menghanguskan
pahala yang dikumpulkannya.

Komentar yang selalu merendahkan orang lain, plus mencemooh orang
yang menasehati serta menolak orang yang mengkritik akan termasuk ke
dalam komentar ciri orang yang sombong alias takabbur, seperti
fir'aun, abu jahal, abu lahab, yaitu kelompok orang yang terhina dan
terkutuk justru karena kesombongannya. Juga ujub yaitu komentar
takjub kepada diri sendiri yang membuat diri ingin tampak paling
super dalam segala hal, akan menunjukan dengan meyakinkan bahwa
memang dirinya paling kurang dalam hal apapun.

Oleh karena itu, menahan diri untuk tidak mudah berkomentar adalah
pintu keselamatan. Komentar dari hasil perenungan yang dalam,
pengamatan yang seksama, berpikir yang jernih, kehati-hatian serta
ketulusan niat yang mengiringi kesungguhan untuk membawa manfaat
dari setiap kata yang terucap, ditambah rasa takut kepada Alloh yang
maha mendengar dan yang akan menuntut pertanggungjawaban dari setiap
kalimat, akan menjadikan komentar kita menjadi mutiara yang indah
dan berharga, tidak hanya bagi yang berucap namun juga bagi yang
menyimak, tak pula hanya untuk dunia namun bisa pula menjadi
bekal pulang di akherat kelak. InsyaAlloh. ***
 
posted by Hadaiq at 1:02 PM | Permalink | 0 comments
Monday, April 17, 2006
Cinta dan Perkawinan
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta, Guru?
Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab :
"Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu ke sana
dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan,
artinya kamu telah menemukan cinta".

Plato pun berjalan, dan tidak berapa lama, dia kembali dengan tangan
kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Saya hanya boleh membawa satu ranting saja, dan saat
berjalan pun tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya saya
telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi saya tak tahu apakah
ada ranting yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi
saya tak mengambil ranting tersebut. Saat saya melanjutkan berjalan
lebih jauh lagi,baru saya sadari bahwa ternyata ranting-ranting
yang saya temukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi tak
saya ambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab " Jadi itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu
perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab:
"Ada hutan yang sangat lebat didepan sana.Berjalanlah tanpa boleh
mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon
saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi,
artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan
membawa sebatang pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/
subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab,
"Sebab berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, setelah menjelajah
hampir setengah hutan, ternyata saya kembali dengan tangan kosong.
Jadi di kesempatan pertama saya lihat pohon ini, dan saya rasa
tidaklah jelek-jelek amat, jadi saya putuskan untuk menebangnya dan
membawanya kesini. Saya tidak mau menghilangkan kesempatan untuk
mendapatkannya"

Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya. Itulah perkawinan"

___________________________________________

A little note:

Cinta itu semakin dicari, hasilnya semakin tidak ditemukan. Cinta
adanya di dalam lubuk hati, di saat dapat menahan keinginan dan
harapan yang berlebih.

Ketika muncul pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta,
maka yang didapat adalah kehampaan... dan tiada sesuatu pun yang
didapat.

Dan kesedihan lainnya Waktu dan Kesempatan tidak dapat
diputar /kembali. Kita harus melangkah ke depan..tidak bisa berbalik
ke belakang. Tidak ada kesempatan lagi. SoTerimalah cinta apa
adanya.

Have a nice day...
Temukan cinta dan nikmati cinta yang ada disekitar kita!
 
posted by Hadaiq at 3:50 PM | Permalink | 0 comments
Thursday, April 13, 2006
MENJADI APAPUN DIRIMU
Menjadi karang-lah, meski tidak mudah.
-->Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang.
Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal
lelah.
-->Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan
dingin yang coba membekukan.
-->Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-
menerus dan coba melemahkan keteguhannya.
-->Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.
-->Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-
abad, tanpa rasa jemu dan bosan.

Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah.
-->Sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap
siangnya.
-->Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar.
-->Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir.
-->Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang.
-->Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan.
-->Sebab ia akan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan
mengenyangkan.
-->Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah
di dahannya.
-->Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.

Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah.
-->Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung
samudera.
-->Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu.
-->Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.

Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak
mudah.
-->Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit.
-->Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya.
-->Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru.
-->Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh.
-->Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya.
-->Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa.
-->Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang
membentang gagah.

Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna.
-->Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan.
-->Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat.
-->Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya.
-->Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah.
-->Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar.
-->Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi.
-->Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun.
-->Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni.
-->Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.

Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah.
-->Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam.
-->Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia.
-->Sebab ia begitu berharga.
-->Sebab ia begitu indah dipandang mata.
-->Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.

Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula.
-->Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini.
-->Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan.
-->Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan,
hingga kemudian tiba saat untuk keluar.




Menjadi apapun dirimu..., bersyukurlah selalu.
Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu.
Sebab kau yakini kekuatanmu.
Sebab kau sadari kelemahanmu.
 
posted by Hadaiq at 6:01 PM | Permalink | 0 comments
RENUNGAN : "IBU"
Suatu saat ibu saya mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena
dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka
pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang
yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat
perbelanjaan tersebut.

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu
saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari
yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi.
Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu
stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya
terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena
ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri
bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana
ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat
talinya.

Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit
radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika
ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang
dalamkepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan
air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan
ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan
tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah,dan dia membelinya.
Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut
terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya.

Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat
berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan
ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya,
memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan
terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu
telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati
saya. Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya,
mengambil tangannya, menciumnya.. dan yang membuatnya
terkejut,memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut
adalah tangan yang paling indah di dunia ini.

Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat
dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang
penuh pengorbanan dari seorang ibu.
Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan
hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu
agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan
Ibu...

" With Love to All Mother "

Note:

" Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik
untuknya.......... "
" Lakukanlah yang Terindah dan Terbaik yang Anda dapat persembahkan
Untuknya "
 
posted by Hadaiq at 5:46 PM | Permalink | 0 comments
Tuesday, April 11, 2006
RENUNGAN : BERSIAP MENGHADAPI KEHILANGAN
Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN?
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-
marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri.
Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh
diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar?
Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW
Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Dikisahkan, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan
tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur.
Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para
tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah ia masih
bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya
sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering
marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang
layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia
tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa
keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu
tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.
Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya
kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah
bank."Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,"
kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si
teller, membawa koinnya ke kolektor.

Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia
lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko
perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa
membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah
berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan
toples.

Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar, dia memanggul
kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati
bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih
melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya
bagus, dan mutunya terkenal Kebetulan pada waktu itu ada pesanan
mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu
meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar
dipilih le laki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai
istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak
untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita
yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan
melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si
wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar Ketika lelaki
itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250
dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke
pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia
terima Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250
dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-
semak,mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur Istri si
lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya
berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil
oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh,
bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk
orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses
hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki
apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah
memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang
berlebihan?


Ada kalimat yang saya suka sekali dalam menempatkan diri dalam
kehidupan:

" Kemenangan Hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada
kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai.
HIDUPLAH SEPERTI ANAK-ANAK YANG DAPAT MENIKMATI TANPA HARUS
MENGUASAI"
 
posted by Hadaiq at 4:04 PM | Permalink | 0 comments
Siapa Sih Loe?
Siapakah orang yang sombong? Orang yang sombong adalah
orang yang di beri penghidupan tapi tidak mau sujud
pada yang menjadikan kehidupan itu yaitu Allah Rabbul
Alaamin, Rabb Semesta Alam. Maka bertasbihlah segala
apa yang ada di bumi dan langit pada TuhanNya kecuali
jin dan manusia yang menyombongkan diri.

Siapakah orang dungu kepala otaknya? Orang yang dungu
kepala otaknya adalah orang yang tidak mahu lakukan
ibadat tapi menyangka bahawa Tuhan tidak akan
menyiksanya dengan kelalaiannya itu dan sering merasa
tenang dengan kemaksiatannya.

Siapakah orang yang bakhil? Orang yang bakhil lagi
kedekut adalah orang yang berat lidahnya untuk membaca
selawat keatas junjungan Rasulullah s. a. w.

Siapakah orang yang buta? Orang yang buta adalah orang
yang tidak mau membaca dan meneliti akan kebesaran Al
Qur’an dan tidak mau mengambil pelajaran
daripadanya.

Siapakah orang yang selalu ditipu? Orang yang selalu
di tipu adalah orang muda yang menyangka bahawa
kematian itu berlaku hanya pada orang tua.

Siapakah orang yang paling cantik? Orang yang paling
cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah
orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana
kuburnya akan di luaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi
sesak? Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah
orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu
kuburnya menghimpitnya.
 
posted by Hadaiq at 4:00 PM | Permalink | 0 comments
Saturday, April 08, 2006
Apakah ini yang Dinamakan Hidup?
Matahari setiap pagi tak lelahnya menyinari bumi, tetapi seakan-akan bumi tak pernah menghiraukan keberadaan matahari. Matahari terbit memang sudah biasa terjadi, tetapi apakah dengan kejadian yang biasa kita terus dapat melupakan apa yang telah diberikannya?

Hari ini aq mulai sadar bahwa dalam hidup ini kita mempunyai banyak tanggung jawab yang telah diamanahkan oleh sang Maha Pencipta. Namun apakah dengan kita terbiasa hidup dengan segala kenikmatan yang telah diberikannya lantas kita terlena dengan menyombongkan diri dan angkuh. Banyak yang harus direnungkan mulai hari ini. Aq harus mampu mulai merenungkan apa arti hidupq di dunia ini. Apa artinya aq dilahirkan di dunia ini, apa gunanya aq belajar,apa esensi dari ibadahku selama ini, apa balasan yang telah aku berikan kepada orang tuaku, apa aku telah membayar kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tuaku.

fuih....Manusia memang tak henti-hentinya mengeluh. Kalo dalam keadaan senang dia aqkan lupa kepada yang telah memberikan kenikmatan, tetapi bila dala keadaan susah hanya bisa mengeluh tanpa bisa berbuat sesuatupun. Selama ini hanya dimanjakan oleh nafsu yang tiada henti-hentinya diumbar dan tidak pernah peduli dengan dampak yang diakibatkan.

Manusia oleh 4JJ1 diberikan kelebihan yaitu akal dan nafsu. Namun selama ini manusia hanya di"ninabobo"kan oleh nafsu. Nafsu dapat dibentengi dengan agama dan akal sehat. Tapi apa guna jika selama ini akal hanya digunakan untuk memikirkan hal yang kurang berguna dan sekali lagi mengarahkan ke hal-hal yang dapat membangkitkan "syahwat". Akal dapat digunakan sebagai penawar Nafsu tersebut. Dengan akal kita dapat mempelajari dan mencegah masuknya hal-hal yang buruk bagi kita. Namun hanya berapa persenkah orang yang menggunakannya?

Mulai hari ini kita harus mulai introspeksi pada diri kita sendiri, apa sih tujuankita hidup di dunia ini? apakah hanya menjadi sampah yang dimana-mana pasti g ada orang yang akan mendekati apalagi menyentuh atau menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari.

RENUNGKANLAH
 
posted by Hadaiq at 11:04 AM | Permalink | 0 comments