Saturday, December 06, 2008
Dosa dan Tobat
Setiap hari, setiap jam, bahkan tiap menit kita sering sekali melakukan perbuatan dosa yang disengaja maupun tidak. Kadang kita acuh akan perbuatan dosa yang kita lakukan dan menganggapnya dalam kategori dosa kecil. Menurut beberapa ulama dalam kitab "al-Ghuniyyah li Thalibi Thariq al Haq" dosa dikategorikan dalam 2 golongan, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Untuk dosa besar sendiri terdiri dari 17 perincian yaitu:

1. Empat dosa yang berkaitan dengan hati
2. Empat dosa yang berkaitan dengan lisan
3. Tiga dosa yang berkaitan dengan perut
4. Dua dosa yang berkaitan dengan faraj(kemaluan)
5. Dua dosa yang berkaitan dengan tangan
6. Satu dosa yang berkaitan dengan kaki
7. Satu dosa yang berkaitan dengan seluruh anggota badan

Adapun untuk dosa kecil, maka jumlahnya tak terhingga. dan tak ada satu cara pun yang dapat digunakan untuk menghitungnya secara keseluruhan secara pasti. Yang dapat kita ketahui hanyalah yang dijelaskan secara syariat dan terkadang terbetik dalam hati nurani; selain itu tidak kita ketahui sama sekali. Hal ini disengaja oleh Allah agar kita senantiasa berhati-hati akan dosa apapun untuk menjaga kesucian dan kedekatan kita kepada Allah SWT sebagaimana firmannya dalam QS Al-An'am [6]:120 "Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan tersembunyi".

Jika seorang mukmin bertobat dari dossa-dosa besar yang pernah dilakukan dan tobatnya dikabulkan oleh Allah maka dengan sendirinya dosa-dosa kecilnya juga akan diampuni oleh Allah seperti firmannya “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kalian untuk mengerjakannya, niscaya Allah hapus kesalahan-kesalahan kalian [dosa-dosa kecil kalian]” (QS. An-Nisa’ [4]:31)

Sebuah syair mengatakan:

Jauhilah semua dosa, besar maupun kecilnya
Sesungguhnya itu benteng orang bertakwa
Berlakulah bagai orang yang melangkah diatas duri
Sudah pasti ia akan berhati-hati
Jangan pernah anggap sebuah dosa kecil
Sebab bukit batupun menjadi besar karena kerikil-kerikil


Beberapa ulama mengatakan, “Sesungguhnya dosa itu jika dianggap kecil oleh pelakunya maka akan dianggap besar oleh Allah. Sebaliknya jika dianggap besar, maka akan dianggap kecil oleh Allah. Hanya orang mukminlah yang menganggap besar sebuah dosa kecil yang dilakukannya, oleh sebab kebesaran iman dan ketinggian pengenalannya terhadap Allah”.

Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin memandang dosanya bagai gunung yang berada diatasnya dimana ia amat khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Adapun orang munafiq, maka ia memandangnya bagaikan seekor lalat yang hinggap di hidungnya dimana ia amat mudah mengusirnya”
Seorang alim akan memandang besar sesuatu orang awam yang memandangnya kecil. Ia juga tidak akan melewati batas-batas yang dilewati oleh orang awam tersebut. Perbedaan sikap ini muncul karena berbedanya ilmu, pengenalan, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Setiap orang, tanpa terkecuali, wajib untuk bertobat kepada Allah, sebab tak seorangpun dapat luput dari kesalahan dan dosa. Andaikan seseorang sudah bersih anggota badannya dari melakukan perbuatan dosa, belum tentu hatinya juga bersih dari berkeinginan untuk melakukan perbuatan dosa tersebut. Andaikan hatinya juga sudah bersih dari keinginan tersebut, belum tentu ia bersih juga dari bisikan setan yang memalingkannya dari mengingat Allah, meskipun sebentar. Andaikan hatinya juga sudah bersih belum tentu ia bersih juga dari kelalaian atau kekurangan dalam mengenal Allah. Semua orang pasti berdosa, sedikit maupun banyak, kecil maupun besar, tergantung kadar iman, kedekatan, dan pengenalan masing-masing terhadap-Nya. Oleh karena itu, tobat amat mereka perlukan; Tidak ada seorangpun yang tak memerlukannya, walaupun kadarnya berbeda-beda tentunya.

“Tobatnya orang awam adalah dari perbuatan dosa, tobatnya orang khash(orang yang mencapai kualitas takwa yang tinggi) adalah dari kelalaian, sedangkan tobatnya khash al-khash(yang lebih tinggi dari orang khash) adalah kecenderungan dari hatinya selain Allah SWT”. Demikian kata Dzu an-Nun al-Mishri.

Para nabi sekalipun, yang memiliki kegungan, kemuliaan, dan kedudukan tinggi disisi Allahtetap bertobat kepada Allah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah SWT sebanyak 70x setiap hari”.

Untuk senantiasa menjadi renungan kita, para nabi dan rasul serta orang-orang mulia lainnya yang merupakan orang-orang besar disisi-Nya, menjadi pembawa risalah Tuhan dan wakil-Nya dalam mengatur dan membina umat manusia, yang senantiasa ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya, masih merasa bersalah kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Maka bagaimanakah dengan kita yang selalu akrab dengan dosa-dosa, terperosok dalam ke dalam perangkap setan dan hawa nafsu, tertipu oleh ibadah-ibadah lahir, namun tidak peduli dengan ibadah-ibadah batin (hati), tidak memiliki sifat wara’, takwa, zuhud, sabar, ridha, qanaah, tawakal, ikhlas, dan sifat-sifat utama lain. Bahkan kita telah tenggelam dalam akhlak-akhlak tercela, induk-induk kejahatan yang menjadi pangkal segala kedurhakaan, dan penyakit-penyakit yang menjadi kesengsaraan di dunia dan akhirat seperti merasa takut miskin, tidak menerima dengan senang hati bahkan marah dengan takdir Allah, lalu menuduh-Nya dengan yang bukan-bukan, merasa ragu dengan janji-janji-Nya, memendam rasa iridan dengki serta dendam, senang terhadap pujian orang lain, merasa besar lagi sombong, dan sifat-sifat yang membinasakan lainnya yang amat panjang untuk disebutkan seluruhnya.

Semoga dapat menjadi bahan tafakur kita sejenak.

Labels:

 
posted by Hadaiq at 8:29 PM | Permalink |


0 Comments: